TEMU REKTOR SEMINARI MENENGAH TINGKAT NASIONAL
Prigen, Jawa Timur, 3-7 Juli 2006
Temu Rektor Seminari Menengah tingkat nasional dengan tema “Pendidikan Holistik” untuk Seminari Menengah di Indonesia telah dilaksanakan di Prigen, Jawa Timur tanggal 3 – 7 Juli 2006. Pendidikan yang menyeluruh dan terpadu mencakup tiga dimensi utama: dimensi Sanctitas, dimensi Sanitas dan dimensi Scientia.
Alasan Pendidikan Holistik dipilih dalam pertemuan ini adalah supaya pendidikan menengah menghasilkan calon imam yang siap imam yang bukan hanya pandai, tetapi juga imam yang memiliki spiritualitas dan kepribadian yang diandalkan.
Proses pertemuan ini ditempuh dengan sharing pengalaman dari beberapa Seminari Menengah beerkenaan dengan dimensi bidang Sanctitas, Sanitas dan Scientia. Melalui proses diskusi akhirnya disepakati dan diputuskan berbagai butir penting yang menyangkut tiga dimensi proses pembinaan di Seminari Menengah.
I. Bidang Sanctitas
Unsur | indikator | HAL yang menunjang | SARANA |
Liturgi | · Misa harian · Ibadat Sabda | Pelajaran Liturgi Latihan Koor Misdinar | Kalendarium Liturgi Kapel (tempat ibadat) Buku liturgi dan Nyanyian liturgis |
Sakramen-sakramen | · Misa Kudus · Rekonsiliasi · Krisma | Katekese Pelajaran agama | Idem |
Kehidupan doa | · Doa-doa gereja · Doa Harian · Doa pribadi · Meditasi | Instruksi Bimbingan | Buku-buku doa |
Devosi | · Visitasi S. Mahakudus · Adorasi · Salve (astuti) · Devosi SP Maria · Devosi kepada Orang Kudus | Instruksi Bimbingan | · Buku-buku doa Nyanyian · Barang-barang devosionalia |
Pengembangan hidup rohani | · Pendalaman Kitab Suci · Bacaan rohani · Refleksi pribadi · Sharing pengalaman pribadi · Ziarah rohani · Rekoleksi dan retret · “desert day” · live in · lectio divina · latihan meditasi | Instruksi Bimbingan Correctio fraterna | Instruktur Pembimbing Kitab Suci Buku penunjang Tempat ziarah |
Bimbingan rohani | · bimbingan rohani pribadi dan kelompok | bimbingan rohani | Pembimbing rohani |
Kondisi yang mendukung | · silentium | Suasana batin Suasana lingkungan | |
Catatan :
- Silentium di atas dimengerti sebagai kondisi yang mendukung semua kegiatan ini maupun kegiatan untuk silentium itu sendiri.
- Setiap Seminari diharapkan mempunyai seorang Direktur Spiritual; Pembimbing Rohani serta Bapak Pengakuan bagi para seminarisnya.
- Seminari perlu memiliki agenda pembinaan bidang sancitas secara teratur, sistematis dan bertahap sesuai dengan jenjang pendidikan masing-masing seminaris.
II. BIDANG SANITAS
Berkaitan dengan bidang SANITAS, unsur-unsur yang dinilai penting dan diharapkan ada pada Seminari Menengah adalah:
Unsur | Kriteria / indikator | Program dan kegiatan yang menunjang |
Fisik | - badan sehat - mampu melakukan tugas-tugas umum imamat - bebas dari penyakit yang menghambat tugas imamat: hepatitis B, jantung, butawarna berat | - Olah raga, makanan sehat, istirahat teratur, - kerja tangan dan otak, outbound, piknik, opera, - lingkungan yang bersih dan sehat, bela diri, - Acara harian yang seimbang dan baik. - Kerjasama dengan lembaga kesehatan (RS), general check-up berkala - Menghindari hal-hal adiktif (misalnya: rokok) |
Psikik | - jiwa, mental sehat - kerendahan hati, bisa menerima dan menghargai orang lain - kejujuran - disiplin diri - penalaran yang wajar, - kepekaan diri | - Melatih kepekaan dalam hidup persaudaran di seminari - Latihan seni musik, program live in, teater - Kegiatan Rekreatif, bermain - penyuluhan & instruksi - Lawatan atau pelayanan (Koor, sekolah Minggu, dll) |
Spiritual | - akal-budi sehat - disiplin diri - mempunyai hidup kerohanian yang cukup sehat - hati nurani | - Akademi, latihan kepemimpinan (kebidelan, OSIS, kepanitiaan, dll) - Bimbingan rohani, acara-acara rohani, perayaan sakramental, |
Emosional Afeksi | - Mampu menjalin relasi yang sehat dengan sesama (lawan dan sesama jenis), keterbukaan dalam bimbingan - pandangan dan sikap sehat terhadap seksualitas dan manusia - tahu etiket dan sopan-santun pergaulan - bisa menerima dan menghargai orang lain | - Ambulatio, sosialisasi, - OSIS (organisasi dan kerjasama) - Penyuluhan, pendampingan dalam pergaulan antar jenis, - Memperhatikan komposisi seimbang gender para pembina dan staf |
Catatan:
- Untuk mendukung keberhasilan dimensi sanitas diperlukan fasilitas (sarana dan prasarana yang memadai), misalnya: gedung, lingkungan yang sehat, sarana olahraga, dll.
- Problem-problem sanitas yang kadang muncul di Seminari Menengah dan perlu perhatian lebih lanjut:
1. Perubahan mentalitas (pandangan salah tentang kerja rumah tangga: mencuci pakaian, masak, membersihkan WC, dll), mental “priyayi” .
2. Penyimpangan seksualitas, seperti potensialitas homoseksual; bias gender dalam memahami perempuan.
3. Problematik “indigo” (kemampuan untuk melihat ‘dunia gaib’ atau indera keenam).
4. Masalah cacat fisik calon seminaris maupun seminaris dan “penyakit bawaan”.
5. Keterbatasan tenaga Pembina serta fasilitas yang kurang memadai.
III. BIDANG SCIENTIA
Berkaitan dengan bidang Scientia, unsur-unsur yang dinilai penting dan diharapkan ada pada Seminari Menengah adalah:
Unsur | indikator | hal yang menunjang |
Siswa | - INPUT: lulus test masuk - OUTPUT: bisa diterima di Seminari Tinggi | - Materi pembelajaran - Proses pembelajaran - Penilaian yang obyektif |
Kurikulum | - Kurnas : memenuhi SKBM - Kursem: memenuhi tuntutan Seminari Tinggi | - Penguasaan Kurikulum - Patokan / standar nilai - Metodologi belajar - Tenaga pengajar - Studi wajib - Fasilitas KBM |
Kegiatan penunjang | - Menguasai keterampilan non kurikuler | - Ekstra kurikuler - Bimbingan belajar - Kursus-kursus (bahasa, komputer, musik, dramaturgi, dll) - Tulis-menulis, jurnalistik, akademi, public speaking, dll |
Catatan:
Untuk mendukung keberhasilan dimensi scientia diperlukan
- Fasilitas (sarana dan prasarana yang memadai), misalnya: gedung, perpustakaan, laboratorium (mis: bahasa, computer, IPA, IPS), lingkungan yang memadai, tenaga pengajar, dll.
- Manajemen seminari yang baik.
- Penilaian harus juga berorientasi kepada ‘proses’ dan bukan hanya nilai akhir.
- Scientia harus diseimbangkan dengan bidang Sanitas dan Sanctitas.
- Perlu pembahasan lebih lanjut tentang Kurikulum KPP dan KPA.
Hal-hal di atas kami pandang penting sebagai pegangan dan acuan bagi pelaksanaan dan penyelenggaraan pendidikan Seminari Menengah di Indonesia.